Selasa, 03 Juli 2012

Rasa yang sama

  Pagi itu aku tidak dapat merasakan hangat matahari seperti biasanya, pagi itu aku tidak lagi menjadi saksi terbitnya sang mentari, pagi itu aku tidak lagi menikmati kicau burung seperti saat aku tidak merasakan sakit, yang aku rasakan hanya rapuh, tak berdaya dan sakit. Aku terbaring diatas ranjang, hanya diam mendengarkan denting jam tak beratura, hanya tersenyum menahan sakit ketika mama bertanya "Sakit apanya sayang?" dalam hati ingin menangis, teriak dan marah.
  Aku pun tak mengerti sakit apa aku, namun sering kali sakit ini muncul ditempat yang sama denga rasa yang sama pula. Aku berusaha beranjak dari ranjang tempat aku terbaring dan aku berkaca, aku berkaca menikmati raut wajahku ketika sedang merasakan sakit, aku pun paham setiap lekuk diwajahku berbeda dari biasanya, berbeda dengan disaat aka sedang bahagia. Tak ada yang berubah dari wajahku hanya saja mimik memelas lebih sedikit menonjol dari biasanya, dari sudut mata nampak ada yang berlinang, aku sakit dan aku hanya bisa menangis dihadapan kaca bisu.
  Aku berusaha untuk membasuh setiap air mata yang telah menetes, namun kedua tanganku tak mampu mengeringkan basahnya pipi ini. Air mataku terlalu deras menetes, terlalu sedih dengan sakit yang aku dapati hari ini, mungkin bukan hanya hari ini tapi untuk kesekian kalinya. Dengan tubuh yang lemah aku kembali beranjak menuju ranjangku untuk kembali berbaring, hanya berbaring yang dapat aku lakukan. Sambil berbaring aku berpikir "Apa yang salah pada organku?"

Dengan rasa sakit yang masih aku rasakan, aku mengambil buku diary dan mulai menulis

Terima kasih atas nafas dan hidup yang telah Engkau berikan padaku Tuhan
Terima kasih atas setiap nikmat yang Engkau karuniakan padaku Tuhan
Terima kasih karena telah melukiskan keindahan pada wajahku Tuhan
Terima kasih Tuhan atas rasa sakit yang Engkau berikan hari ini
Mungkin ini adalah takdirku, takdir yang harus aku jalani. Mengeluh pun tak ada gunanya. Aku sudah sering merasakan sakit seperti ini dengan rasa dan tempat yang sama, untuk apalagi aku mengeluh? Aku hanya ingin menjadi pribadi yang jauh dari kata mengeluh, aku ingin tetap menjadi pribadi yang selalu bersyukur menjalani apa yang sudah Tuhan gariskan pada hidupku. Aku sudah sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan aku keluarga yang luar biasa dengan orang tua yang luar biasa pula. 

Bila suatu saat nanti aku akan meninggal karena penyakitku ini, aku ingin semua orang tau bahwa aku sangat mencintai rasa sakit yang ada pada diriku
Dan suatu hari nanti jika aku benar benar mati karena penyakitku ini, aku ingin semua orang didunia tau bahwa aku sangat menginginkan nafas untuk lebih lama lagi
Dan jika memang suatu saat nanti penyakitku ini benar benar membawaku pada kematian, aku ingin semua orang di dunia tau bahwa aku pernah menjadi bagian dari dunia dan aku mati bahagia karena penyakitku masih memberiku waktu untuk merasakan cinta walaupun dulu aku pernah ditinggalkan. 

  Tanpa disadari, air mataku pun menetes, jatuh membasahi kertas diaryku. Mungkin begitu dalam perasaanku saat menulis semua ini, mungkin terlalu bahagia bahkan mungkin aku merasa sangat beruntung saat itu karena Tuhan masih memberiku waktu, aku beruntung karena masih bisa menikmati banyak keindahan yang Tuhan ciptakan, aku beruntung karena disetiap hela nafasku aku masih memiliki kasih sayang dari orang sekitarku, aku beruntung karena Tuhan memberiku penyakit yang dapat menguatkanku. 
  Aku letakkan diaryku pada tempatnya, aku kembali berbaring dan kembali menikmati sunyinya siang itu. Aku hanya sendiri kala itu, sepi dan bahkan sangat sunyi. Mungkin bukan hanya ragaku yang merasa sepi, jiwaku pun merasakan hal yang sama, bahkan aku sempat berpikir kalau Tuhan akan memanggilku pada detik detik itu, namun Tuhan masih memberiku waktu walau sering kali aku merasakan ketakutanku akan takdir Tuhan yang entah kapan aku akan kembali ke sisiNya. 

Selama aku masih memiliki waktu untuk bernafas, aku akan tetap bernafas dan terus bernafas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar